Belaan Ngiru
25, pemburu
Rumah panjangnya mulai diam, dan hanya ia yang mau mendayung ke hulu mencari tahu kenapa.

Rumah panjang Ladderbank mulai diam. Belaan mendayung ke hulu untuk mencari suaranya.
Minta kabar rilisHulu Brownwater, subuh
Di Rawang Hulu tidak ada jalan tanah, jadi orang bepergian lewat sungai cokelat yang berkelok pelan dari pegunungan ke laut, membawa kabar dari rumah ke rumah.
Ada lima sungai, sembilan rumah panjang, juga empat belas makhluk yang hafal jalannya sendiri. Kamu bermain sebagai Belaan Ngiru dengan sumpitan, mandau, perisai kayu, serta perahu panjang warisan ayahnya.



Tepi Kettlebend, pagi
Hutan ini bertingkat seperti rumah panjang yang ditumpuk, tiap tingkat dengan penghuninya sendiri.
Akar papan setinggi dinding membagi dasar hutan menjadi lorong berkabut, sehingga jejak yang kamu ikuti pagi ini sering hilang besok pagi.
Rootback Boar
Sepanjang Brownwater, siang
Tiap rumah menampung satu keluarga besar, dan kamu akan singgah di semuanya sampai tahu mana yang masih bicara.

Rumah Belaan








Hornbill Reach, tengah hari
Mereka punya jam bangun dan jalur sendiri, jadi pemburu yang sabar biasanya pulang dengan selamat.














Hulu Slowmouth, sore
Lumut itu pucat dan lembut seperti kain kempa, tumbuh di batang pohon tertua lalu merambat ke tiang, ke tangga, ke orang yang duduk terlalu lama di bawahnya, dan siapa pun yang menyentuhnya menjadi tenang, tenang sekali, sampai ia lupa jalan pulang dan lupa bahwa ada yang menunggunya di serambi.
Lumut itu menunggu orang yang lelah, dan orang yang lelah pasti duduk.
Serambi Ladderbank, malam



25, pemburu
Rumah panjangnya mulai diam, dan hanya ia yang mau mendayung ke hulu mencari tahu kenapa.
63, tukang perahu
Hafal tiap tikungan sungai, dan belum pernah menyelesaikan satu cerita dalam satu malam.
31, penjelajah kanopi
Lebih betah di cabang daripada di lantai, dialah yang pertama melihat lumut itu.
Ladderbank, lewat tengah malam
Diceritakan Tenyai Larak kepada yang belum tidur
Ada seorang pemanjat yang naik ke kanopi mencari madu, dan di atas sana ia menemukan lumut yang lebih lembut dari tikar mana pun. Ia duduk sebentar. Sebentar saja, katanya, sebentar saja, sampai matahari pindah ke sisi lain pohon dan anak-anaknya memanggil dari perahu di bawah.
Ia mendengar mereka, aku yakin ia mendengar mereka, tetapi lumut itu lebih hangat dari suara siapa pun. Besok paginya tangga rumah kita ikut pucat. Jadi kalau kamu naik, nak, jangan duduk, biar aku yang menghitung perahumu waktu kamu pulang.
Muara Teawater, fajar
Tinggalkan surelmu dan kami kirim satu kabar saat perahu siap berangkat.